SEJARAH
Berawal dari seorang ibu bernama Ratnasari Gemma Paula Aria (Ibu Gemma) yang membaca artikel di koran Kompas yang menyelanggarakan pelatihan perawatan Anak Berkebutuhan Khusus dengan pelatih/pengajar professional. Kasih Kristus mendorong Ibu Gemma untuk mencintai anak-anak berkebutuhan khusus, lalu beliau mengikuti pelatihan tersebut hingga selesai.
Pada tahun 1969 Ibu Gemma mulai membuka pengasuhan anak-anak tunagrahita yang dimulai dengan 3 anak berkebutuhan khusus dengan menempati garasi di rumah beliau.
Pada tahun 1973 bersama temannya Ibu Sintawati Tjondroandaja dan Ibu Elizabeth Ekawati Tohir, Ibu Gemma menghadap notaris untuk mendirikan Yayasan Tri Asih dengan tujuan:
• Mendidik putra-putri cacat menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa.
• Membimbing putra-putri tersebut.
• Memperhatikan/membantu anak-anak tunagrahita.
Tri Asih memiliki arti bahwa anak-anak tunagrahita akan selalu mendapatkan 3 (tiga) kasih yakni Kasih dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Orang Tua dan Pengasuh/Pendidik.
Karena semakin bertambahnya anak yang diasuh dan dibantu dari para donatur antara lain:
APP Keuskupan Agung Jakarta, WKRI, Lion Club maka pada tahun 1975 Yayasan Tri Asih pindah ke jalan Y no. 33 Kampung Duri hingga berhasil mendirikan Sekolahan SDLBC 1.
Perkembangan selanjutnya pada tahun 1980 membeli tanah di Kebon Jeruk dan berlanjut dengan mendirikan gedung sekolah pada tahun 1982, Workshop (1992) dan Panti Rawat (2011) yang digunakan hingga kini.
Saat ini Yayasan Tri Asih berkembang dan bergiat dalam bidang Pendidikan, Perawatan, Terapi dan Workshop (hasil karya anak).
Keberhasilan di atas tidak lepas dari kasih perhatian para donatur yang senantiasa memperhatikan Yayasan Tri Asih.
“Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12)